
Kemarin sore, sepulang dari kantor aku lihat Icha lagi main balok sendiri di kamar. "Mama....." panggil Icha sambil senyum, aku langsung menghampiri dan mencium keningnya. "Mbak Icha udah makan sayang ?" tanyaku. "Tuh lagi dibikinin telur ceplok sama mbak" jawab Icha sambil teriak pada si mbak untuk jangan lupa kasih kecap yang banyak.
Kemudian aku duduk disamping Icha sambil memperhatikan apa yang sedang dibikin, ternyata Icha sedang mencoba untuk bikin rumah bertingkat. "Ini rumahnya mbak Icha, Ma" katanya. "Iya sayang, kalo papa dapat rejeki ntar rumahnya ditingkat ya" jawabku. "Kamar mbak Icha sama dek Athan nanti diatas lho Ma" requestnya. Tak lama si mbak masuk sambil bawa sepiring nasi plus telur ceplok pesenan Icha. Aku minta piringnya dan sewaktu aku mau nyuapin ke Icha, Icha menolak, "Mbak Icha mau makan sendiri ah, kan udah TK A" katanya bangga karena merasa udah gedhe. "Iya deh tapi dihabisin ya nak" jawabku sambil meletakkan piring di dekat Icha.
Sambil rebahan di tempat tidur, aku memperhatikan Icha yang udah pintar makan sendiri. Kemudian Arkaan masuk kamar sehabis pulang dari jalan2 di taman komplek perumahan. Arkaan langsung melorot turun dari gendongan si embok dan merangkak ke arahku sambil ketawa2 senang karena lihat mamanya udah pulang. Langsung aku gendong Arkaan dan "cium bunyi" di mulutnya (mengecup bibir Arkaan yang setengah kebuka, hehehehehe...). Setelah itu Arkaan minta turun dari gendonganku dan merangkak mendekati kakaknya yang sedang mewarna setelah makannya habis tadi. Tapi Icha takut gambarnya disobek Arkaan, jadi reflek Icha mendorong Arkaan sampai Arkaan terhuyung mau jatuh, langsung cepat2 aku tangkap. Untung dorongnya nggak terlalu kuat. Spontan aku menghardik Icha, "Mbak, jangan gitu dong, kalo adek jatuh gimana ? kasian kan !". Icha langsung melirik tajam ke arahku sambil berkata, "tadi mama suka sama mbak Icha, nemenin main mbak Icha, kok sekarang nggak, malah marah ?!" Wadduhhhhh..... nih anakkkk, kok protes ???
Sambil tersenyum geli, aku dekati Icha. "Kakak.... Mama itu suka sama mbak Icha, sayang mbak Icha tapi kalo mbak Icha salah, ya mama tetep marah. Coba tadi kalo mama nggak sempet nangkap dek Athan trus kepalanya dek Athan kena lantai, gimana ? kasihan kan ?". Icha diam aja, tapi mulutnya tetap cemberut.
Memang semenjak Arkaan lahir, kelihatan kalo Icha ini agak jealous. Wajar sihhh... karena biasanya semua orang cuma memperhatikan dia, tapi sekarang ada saingannya. Tapi sebenernya nggak terlalu jealous juga ding, paling dia baru merajuk kalo lihat adeknya lagi bermanja2 sama aku, ngiri lah ceritanya....
Dan aku perhatikan akhir2 ini, Icha malah semakin dekat sama papanya. Apa aja maunya sama papa, terutama saat mau tidur. Karena Icha punya kebiasaan kalo mau bobo, suka minta digaruk2in pantatnya, hahahahahaha..... sampai bener2 udah ngantuk trus minta pelukan sama papa. Sebenernya aku kehilangan moment2 seperti itu sama Icha, karena sebelumnya Icha maunya bobo kalo pelukan sama aku. Mungkin Icha merasa telah kehilangan banyak waktu untuk bisa bersama aku. Karena sepulang kantor, pasti yang aku "pegang" dulu si Arkaan. Aku baru main sama Icha kalau Arkaan udah bobo.
Maaf ya sayang, bukannya mama nggak sayang sama mbak Icha, tapi mama harus membagi perhatian untuk kalian berdua, anak-anak mama yang paliiingggg mama cintai. Sayang mama, cinta mama, apapun yang mama lakukan itu cuma untuk kalian berdua. Love you both so muchhh !!!














